Beranda > Cerita > Jual saja Cincin itu, tapi jangan Cinta Kita.

Jual saja Cincin itu, tapi jangan Cinta Kita.

Tepat pada tanggal 1 Juni 2010, genap 7 tahun usia perkawinan kami, waktu yang terlalu muda  untuk sebuah ikatan sakral pernikahan, tidak dirayakan memang, hanya ucapan selamat via telepon dan sms saja, karena saat yang bersamaan aku sedang di luar kota.

kalau boleh waktu mundur ke belakang, mengingat kejadian di rentang waktu tersebut, banyak yang kejadian dan peristiwa yang membuat kami bersyukur, karena semua di jalani dengan ketabahan, kesungguhan dan kepasrahan.

Pepatah bahasa Jawa mengatakan :" Witing Tresno Jalaran Soko Kulino" itulah awal dari perjalanan kehidupan berumah tangga kami, masa berpacaran yang boleh di katakan cukup lama, bukan nya tidak ingin langsung menikah, tapi banyak yang harus di pikirkan, karena kami berdua adalah tulang punggung bagi keluarga masing-masing, dan Alhamdulillah semua nya dapat kami lalui bersama dan mengikrarkan pernikahan kami sebagai suami istri.

Judul postingan dia atas memang betul, itulah serpihan dari perjalanan kehidupan berumah tangga kami, dan mengingatnya kembali sebagai upaya pembelajaran dan pengalaman hidup untuk kemudian hari, Cincin yang aku serahkan pada saat pernikahan itu kami jual, itulah saat paling menyedihkan dan keharusan, karena kami tidak ingin merepotkan orang lain, dan semua uang dari hasil penjualan Cincin itu hanya untuk kebutuhan hidup sehari-hari.
Tapi bagaimana setelah uang nya habis ? karena berapa banyaklah uang dari hasil penjualan Cincin itu? apalagi biaya hidup terus bertambah dan si kecil sudah tidak mau menyusu lagi.  Cobaan itu terus datang di awal awal kami sebagi sebuah keluarga yang utuh dengan seorang putri dari benih cinta kami yang baru berumur 1 tahun.

Aku pasrah, kegundahan dalam menatap hidup samar terlihat, seakan dunia ini tidak berpihak kepadaku, dan nasehat sebagai ejekkan yang menghinakan, karena segala usaha telah di coba tapi selalu ku anggap sia-sia, tapi isteriku selalu tabah, aku salut akan hal itu, sering kali aku lihat butiran air mata saat dia ingin menutupi masalah rumah tangga kami, cukup lama aku dalam kondisi itu, hingga aku tersadar, bahwa sikap ku selama ini banyak yang salah.sadar bahwa aku adalah kepala rumah tangga, sadar bahwa perlunya menjalin silaturahmi, sadar bahwa sebuah nasehat adalah cambuk untuk maju sadar bahwa ada anak seorang putri yang cantik yang harus tumbuh dan berkembang.

Alhamdulillah aku bersyukur..akhirnya semua itu dapat aku lalui, satu persatu dengan semangat aku perbaiki, dan Cincin perkawinan yang di jual itu sudah di ganti. Dan bila Anda bertemu dengan isteriku, coba lah tanya kan kepada dia.

    "Apakah betul Ulim menjual cincin kawin kalian ?", Insyallah dia akan jawab: “ Iya, memang di jual.”

    "Apakah sudah Ulim ganti ?, dan dia Insyallah dia akan jawab " Sudah, dan sebetul nya tidak perlu, karena cincin itu  adalah benda, sedang kan dia dan cintanya bagiku tidak tergantikan"

 

kau tak tergantikan

Terima kasih My Queen, My Princess, aku akan tetap jadi Your King di hati kalian.

Kategori:Cerita Tag:,
  1. julianusginting
    4 Juni 2010 pukul 7:50 am

    wow…kalo sy sih mau cincin atau cinta…tidak bole dijual walau bagaimanapunnnn

  2. uu11
    16 September 2010 pukul 10:10 am

    Kalau Cincin saya masih tergadaikan di sebeuah tempat pergadaian, Enggak tau bisa di tebus apa tidak, tapi yakin lah Allah Bersama Orang2 yang Bersabar dalam menghadapi Sebuah Cobaan.

    • 10 Oktober 2010 pukul 12:35 pm

      Moga cepat di tebus ya..hehehe..

  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: